Ketika burung menjemput  padi, tahukah kau kisah siapakah yang tersembunyi ?

Lelaki tua itu terhenti.  Ia menghisap sebatang rokok, lalu meletakkannya dengan cermat di tepi meja. Demikianlah Mbah Darkin selalu wicaksana dan waskita. Bijak dan tajam pikirannya. Di kerut ketuaannya tersembunyi kearifan melintasi generasi.

Teh hangat tersaji di hadapan kami, ketela rebus hangat mengepulkan kematangannya. Angin dingin pegunungan memainkan orkestrasi dedaunan di luar. Beberapa peralatan tani tertata rapi di sudut ruang. Mbah Darkin mengerti ilmu padi.

“Selalu ada beberapa batang rumput kejawan di sela-sela rumpun padi. Ia tumbuh lebih tinggi, dan menghasilkan bulir benih serupa padi.” Tuturnya.

Berabad lampau, ketika nusa Jawa masih negeri dewa-dewi, sepasang lelaki dan perempuan tua mendapat kepercayaan Bethara Guru merawat bayi mungil yang tercipta dari telur di mulut naga Antaboga. Nyai dan Kyai Bondhan Kejawan nama mereka. Pamomong sang dewi, ibu dari para petani, ibu pengasuh kehidupan yang cintanya menyuburkan bumi.

Ketika sang dewi mungil tumbuh mendewasa dan menarik nafsu lelaki Bethara Guru, ia pun terpaksa menjalani pelarian panjang melintasi peradaban. Masuk ke desa-desa, menjelma dari satu wujud ke wujud yang lain. Meminta perlindungan dari kaum jelata, sekaligus mendidik mereka bercocok tanam mengolah tanah. Sri Suwita. Dewi yang mengabdi. Demikianlah ia melayani dan menyucikan bumi.

Di ujung pelariannya, menjelmalah Dewi menjadi padi. Mahadewa yang meraksasa dalam nafsu dunia, menjelma menjadi pipit yang memburu padi.

Maka seorang Bondhan Kejawan tak tinggal diam. ia menjadi rerumputan kejawan yang tumbuh meninggi melindungi Sang Dewi. Setiap kali burung terbang merendah untuk memetik bulir-bulir padi,  ia keliru memetik rerumputan suci.

Ketika burung menjemput padi, mereka bertemu dengan kerendahan hati dan pengorbanan diri.  Kasih Kyai Bondhan pada sang momongan. Cinta yang lebih besar dari hidup, cinta itu yang menjaga Sang Dewi melintasi generasi. Demikianlah keutamaan itu diteruskan dan tumbuh, menyuburkan dan tersuburkan, menjadi berkat yang meluhurkan kehidupan.

Iklan